Lompat ke isi utama

Berita

Cegah Politik Uang Sejak Bangku Sekolah, Bawaslu Klaten Ajak Siswa SMKN 2 Klaten Berani Memilih dengan Hati Nurani

Cegah Politik Uang Sejak Bangku Sekolah, Bawaslu Klaten Ajak Siswa SMKN 2 Klaten Berani Memilih dengan Hati Nurani

Cegah Politik Uang Sejak Bangku Sekolah, Bawaslu Klaten Ajak Siswa SMKN 2 Klaten Berani Memilih dengan Hati Nurani

KLATEN — Demokrasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilihan, tetapi juga oleh bagaimana pilihan itu ditentukan. Pesan inilah yang disampaikan Bawaslu Kabupaten Klaten dalam kegiatan sosialisasi demokrasi pada pembukaan pemilihan Ketua OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMK Negeri 2 Klaten, Senin (12/10/2026).

Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Kabupaten Klaten mengajak para siswa untuk memahami pentingnya memilih pemimpin berdasarkan kualitas, visi dan misi, serta kemampuan memimpin, bukan karena iming-iming uang atau pemberian tertentu.

Sosialisasi disampaikan oleh Aanggota Bawaslu Kabupaten Klaten M. Milkhan, di hadapan siswa-siswi, dewan guru, serta enam pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran demokrasi bagi generasi muda agar mampu menerapkan nilai-nilai pemilihan yang jujur, adil, dan bertanggung jawab, dimulai dari lingkungan sekolah.

Dalam arahannya, M. Milkhan menjelaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Setiap orang memiliki karakter, pandangan, dan kepentingan yang berbeda. Demokrasi hadir sebagai sarana untuk mengelola perbedaan tersebut melalui proses pengambilan keputusan yang mengutamakan kepentingan bersama.

Nilai-nilai tersebut dapat dipraktikkan secara langsung melalui pemilihan Ketua OSIS dan MPK. Para siswa tidak sekadar memilih sosok yang akan memimpin organisasi, tetapi juga belajar menghargai perbedaan pilihan, menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, dan menerima hasil pemilihan dengan sikap dewasa.

Keenam pasangan calon yang mengikuti kontestasi diharapkan mampu berkompetisi secara sehat dengan menawarkan gagasan, program, serta solusi yang bermanfaat bagi seluruh warga sekolah.

Salah satu pesan utama dalam sosialisasi ini adalah bahaya politik uang atau money politics. M. Milkhan mengingatkan bahwa pemberian uang atau imbalan untuk memengaruhi pilihan dapat merusak integritas pemilihan dan menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar berkualitas.

Ia menegaskan bahwa siswa perlu menilai calon berdasarkan visi dan misi, rekam jejak, kemampuan berkomunikasi, kualitas kepemimpinan, serta kecakapan dalam menyelesaikan konflik.

Pesan tersebut disampaikan dengan ungkapan yang dekat dengan keseharian siswa, yakni, “Ojo milihmu berdasarkan amplop sing paling gede.”

Ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut mengandung pesan sederhana tetapi penting: jangan menentukan pilihan hanya karena besarnya uang atau keuntungan sesaat. Pemimpin seharusnya dipilih karena kemampuan, integritas, dan komitmennya dalam menjalankan amanah.

Pembelajaran ini relevan tidak hanya untuk pemilihan di sekolah, tetapi juga sebagai bekal ketika para siswa kelak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah.

Selain politik uang, para siswa juga diajak mengenali tantangan demokrasi di era digital, terutama penyebaran berita bohong atau hoaks dan ujaran kebencian.

Di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, generasi muda memiliki peran penting untuk membangun budaya digital yang sehat. Siswa diharapkan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak ikut menyebarkan kabar yang menyesatkan, serta tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk saling membenci.

Sikap kritis dalam menerima informasi menjadi bagian penting dari demokrasi. Sebelum mempercayai atau membagikan suatu informasi, siswa perlu memeriksa sumber dan kebenarannya agar tidak terjebak dalam provokasi yang dapat memecah persatuan.

Dengan demikian, pendidikan demokrasi tidak berhenti pada kegiatan memilih pemimpin, tetapi juga mencakup tanggung jawab dalam menjaga ruang publik, termasuk ruang digital, agar tetap sehat dan beretika.

Dalam sosialisasi tersebut, M. Milkhan juga menyinggung pentingnya memahami hak pilih. Bagi siswa yang telah berusia 17 tahun, pemahaman mengenai pemilu menjadi semakin relevan sebagai bekal untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemilihan Ketua OSIS dan MPK dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mengenali proses demokrasi, mulai dari menilai calon, menentukan pilihan secara mandiri, hingga menghormati hasil pemilihan.

Ia menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian pemilihan di SMK Negeri 2 Klaten dapat berjalan sukses dan menghasilkan pemimpin yang mampu menjalankan organisasi dengan baik. Siapa pun yang terpilih diharapkan menjadi pilihan terbaik berdasarkan pertimbangan dan hati nurani para pemilih.

Bagi Bawaslu Kabupaten Klaten, penguatan pemahaman demokrasi di lingkungan pendidikan merupakan langkah penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat sejak dini. Nilai kejujuran, integritas, sikap kritis, dan tanggung jawab perlu dibiasakan agar generasi muda tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga menjadi warga negara yang mampu menjaga kualitas demokrasi.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan membawa satu prinsip penting dalam setiap proses pemilihan: pemimpin yang baik lahir dari pilihan yang cerdas, jujur, dan bebas dari politik uang.

 

Penulis : Dwi Y

Redaktur : Neneng Widasari